Sial Itulah kata pertama yang akan aku katakan kalau kamu tanya bagaimana kabarku hari ini. Sungguh aku sudah seperti membenci semua yang berkaitan dengan hidupku, separuh dari manusia yang kukenal, dan semua pekerjaanku yang menggunung bak cucian akhir minggu. Ah ya, cucian itu juga aku benci. Siang hari ini aku meninggalkan tikus kesayanganku di meja selasar tanpa sadar, ya benar tanpa sadar kalau sadar aku sudah mengambilnya dan menyimpannya di tasku. Sialnya lagi, sore harinya aku baru menyadari hilangnya tikusku setelah sampai di kos dan leyeh-leyeh sesukaku. Aku lalu bergegas kembali ke kampus, berharap tikus itu masih ada di meja itu dengan pengharapan yang seminimal mungkin, biar tidak kecewa. Itulah permulaanya. Jangan ditanya kenapa aku begitu sebal saat tikusku hilang, dia adalah beda berharga kedua setelah laptopku. Kalau laptop adalah sasaran tembak, tikusku itu senjatanya. Terus kalau tikusku hilang, aku harus menembak pakai apa? Bisa-bisa malah granat yang aku...