Sial
Itulah kata pertama yang akan aku katakan kalau kamu tanya
bagaimana kabarku hari ini. Sungguh aku sudah seperti membenci semua yang
berkaitan dengan hidupku, separuh dari manusia yang kukenal, dan semua
pekerjaanku yang menggunung bak cucian akhir minggu. Ah ya, cucian itu juga aku
benci.
Siang hari ini aku meninggalkan tikus kesayanganku di meja
selasar tanpa sadar, ya benar tanpa sadar kalau sadar aku sudah mengambilnya dan
menyimpannya di tasku. Sialnya lagi, sore harinya aku baru menyadari hilangnya
tikusku setelah sampai di kos dan leyeh-leyeh
sesukaku. Aku lalu bergegas kembali ke kampus, berharap tikus itu masih ada di
meja itu dengan pengharapan yang seminimal mungkin, biar tidak kecewa. Itulah
permulaanya. Jangan ditanya kenapa aku begitu sebal saat tikusku hilang, dia
adalah beda berharga kedua setelah laptopku. Kalau laptop adalah sasaran
tembak, tikusku itu senjatanya. Terus kalau tikusku hilang, aku harus menembak
pakai apa? Bisa-bisa malah granat yang aku lemparkan saking sebalnya.
Ada sedikit kelegaan muncul saat aku menemukan tikusku masih
tergeletak di meja yang sama setekah hampir tujuh jam berada di ruangan publik.
Ah, tikusku ini masih rejekiku pikirku. Aku jadi skeptis dengan pernyataan “Taruh
barang apapun, senggak berhargapun di tempat terbuka di Indonesia, lima menit
juga bakal ilang”. Nyatanya tikusku tujuh jam disana juga baik-baik saja.
Agaknya pernyataan itu dibuat oleh orang yang tidak bertanggung jawab yang
ingin memecah belah Bangsa Indonesia.
Sayangnya kelegaan itu tidak berlangsung lama.
Aku menghampiri teman-temanku yang duduk menghadap benda
kesayangan mereka, laptop, di meja seberang. Aku duduk di meja kotak yang
dikelilingi empat bangku memanjang itu, lalu
bertanya.
“Ngerjain apa?”
kutanya. Lalu mereka jawab seperti biasa orang menjawab pertanyaan dan bertanya
balik kenapa aku ada di sini.
Aku jadi teringat tentang tugas kelompokku yang belum juga
usai. Terlalu lelah jadi pemantik di kelompok yang sebelumnya membuatku sedikit
ingin menjadi orang apatis di kelompok satu ini, tapi sayangnya semua orang di
kelompok juga sepertinya kehabisan korek untuk menyalakan api.
Sial.
Aku hanya bisa menggerutu dan bertanya di grup line,
“apa kabar tugas kita?” ketikku, sejam kemudian baru
dibalas, pun tidak solutif sama sekali.
Sial.
Aku memang dikenal tidak pernah akur dengan kelompok manapun
yang kumasuki, aku selalu jadi pemburu, jadi pemantik, bahkan menjadi pelaku
utama kebakaran jenggot teman-temanku yang lain. Itu semata karena aku cuma ingin tugas itu selesai tepat
waktu, tersusun rapi, berbobot, dan mendapat nilai yang sempurna.
Silakan tertawa.
Adzan maghrib menggema. Kuputuskan untuk legowo dengan kenyataan tugas belum
selesai dan berjalan menuju musholla sambil menelpon sahabatku, si lucu
berkacamata untuk makan malam.
Seusai sholat aku teringat.
Walaupun aku meninggalkan tikusku, aku masih menemukannya,
itu rejeki. Walaupun aku ngebut di jalan karena tergesa-gesa untuk mengambil
tikus, aku masih selamat dan tidak tergelincir di jalanan, itu perlindungan.
Walaupun tugas-tugas itu belum selesai, aku masih punya kedua tangan dan otak
yang masih bisa berpikir secara sempurna, juga teman-teman yang masih akan
berusaha walau harus dipaksa, itu anugrah.
Terkadang kita, tidak, aku terlalu sibuk pada kesialan yang
terjadi di kehidupaku. Tanpa sadar aku melewatkan satu yang penting yaitu,
nikmat Allah yang tidak juga terputus walaupun aku kadang tidak
mengingat-ingatnya.
Lalu aku juga teringat, kesialan itu bukan tercipta begitu
saja. Coba saja aku tidak teledor dan mengecek kembali barang-barangku sebelum
pergi, maka aku tidak akan meninggalkan tikusku. Coba saja kalau aku menerapkan
strategi kepemimpinan yang lebih merangkul semua teman di kelompok, semuanya
akan bergerak bersama demi tujuan bersama. Coba saja aku mengerahkan
teman-temanku untuk bekerja lebih awal, maka tidak akan ada kisah thriller ala mahasiswa; diburu deadline.
Pada akhirnya,
Semuanya kembali padaku, kesialan itu adalah buah dari
tanganku sendiri yang tidak mengerjakan sesuatu dengan optimal.
Itu adalah kalimat yang akan aku ucapkan untuk melengkapi
kata pertamaku di awal tadi.
PS: Oh ya, makan malam yang kumakan bersama si lucu
berkacamata itu enak sekali. Aku makan kwetiau rebus dan minum jeruk panas. Itu
nikmat yang lain.
Comments
Post a Comment