Bismillah.. Dengan Nama Allah dengan nama-Nya tidak berbahaya suatu apapun yang ada di langit dan bumi.
--------------------------------------------------------------------------------
Ini adalah sebuah (lebih tepatnya sepenggal) kisah yang pernah saya lalui. Yang menjadi suatu kenangan untuk saya.
Masih teringat saat aku pertama kali melangkahkan kakiku masuk ke kampus biru itu. Saat itu aku masih memakai seragam kebesaranku selama enam tahun disertai dengan sebuah tas baru yang dibelikan ibu sesaat setelah cap tiga jari dilaksanakan.
Saat itu aku belum sepenuhnya paham akan arti 'masuk ke sekolah baru' yang ada dalam pikiranku adalah bukan apa apa. Aku memang tidak membayangkan bagaimana kehidupanku setelahku masuk disana. Aku tidak mempunyai bayangan samasekali. Yang jelas, aku akan memasuki fase kehidupan baru dimana aku akan berada bersama orang-orang yang baru pula.
Beberapa hari kemudian, alhamdilillah. Allah menghendakiku untuk memasuki dan membuka lembar hidup baru di sana. Dan mengizinkanku untuk melalui banyak kisah yang jelas kurindukan kini.
Dan memang, tidak terjadi apapun yang bisa dibilang menakjubkan setahun pertama aku bersekolah disana. Yang jelas, aku mendapati pelajaran baru yang lebih rumit dan tentu saja memusingkan bagiku yang notabene masih fresh graduate (dari sekolah dasar).
Dulu, ingin sekali aku masuk menjadi pleton inti atau tonti di sekolah saat kelas satu. Kelihatannya suatu kebanggaan tersendiri bagi yang bisa ikut ekstrakulikuler itu. Bangga karena bisa nyekip beberapa pelajaran (yang biasanya pelajaran pertama) untuk sesi latihan. Namun ya apalah artinya berharap kalau memang tidak dipilih.
Beranjak ke kelas 2, dimana hidupku sedang berada di titik tertenang dalam sejarah hidupku. Bayangkan saja, saat itu bahkan aku tidak pernah merasa tertekan sedikitpun. Mungkin hanya masalah sepele, dan itu bisa diatasi dengan mudah tanpa harus memusingkan kepala (seperti saat ini).
Saat itu, seluruh kelas 2 wajib untuk mengikuti seleksi baris (lagi) lalu keinginan itupun muncul kembali. Disaat aku bahkan sudah melupakan keinginan itu.
Beberapa hari sesi seleksi, aku berusaha semaksimal mungkin agar bisa terpilih. Dan alhamdulillah, aku terpilih.
Dan aku pun menjalani sesi sesi latihan seperti biasa, dari pulang sekolah sampai jam 5 sore. Kami rela dipanas panaskan dan digembleng habis habisan. Karena apa, karena cinta kami. Aku mulai merasakan apa itu namanya kebersamaan. Rasanya sungguh senang kalau satu pleton bisa kompak. Apalagi saat lomba dan kami mendapat juara.
Masih teringat jelas saat aku pertama kali memesan sepatu khusus di tempat pembuat sepatu. Saat itu harganya sekitar 70-80ribu. Dan sepatu itu masih utuh sampai sekarang. Teringat saat betapa susah mencari rok yang tidak sempit, secara keseluruhan rok ternyata sempit. Saat pulang jam 5 dan dirumah langsung cuci kaos latihan karena esoknya harus dipakai lagi. Dan teringat teringat yang lainnya.
Sekarang aku sudah meninggalkan tempat itu ke tempat asing yang jauh dari ku sebelumnya. Aku mendapati kenyataan yang baru di sini. Walaupun aku sekarang bukan anggota ekskul itu lagi sekarang, namun aku masih bisa merasakan atmosfernya. Berbeda memang, namun aku masih merasakannya. Merasakan panasnya tanah lapangan badminton yang memerah. Merasakan debu yang berterbangan karena gebrakan sepatu. Merasakan perihnya kaki. Merasakan peluh yang menetes satu per satu. Merasakan bagaimana rasanya berjuang disana, di lapangan merah itu. Demi sebuah nama, almamater. Aku masih sangat kagum dengan nama yang diberikan oleh orang orang hebat yang rela mengajari kami. Nama yang selalu akan kami ingat. Nama yang berarti.... Batu Berlian Muda.
--------------------------------------------------------------------------------
Ini adalah sebuah (lebih tepatnya sepenggal) kisah yang pernah saya lalui. Yang menjadi suatu kenangan untuk saya.
Masih teringat saat aku pertama kali melangkahkan kakiku masuk ke kampus biru itu. Saat itu aku masih memakai seragam kebesaranku selama enam tahun disertai dengan sebuah tas baru yang dibelikan ibu sesaat setelah cap tiga jari dilaksanakan.
Saat itu aku belum sepenuhnya paham akan arti 'masuk ke sekolah baru' yang ada dalam pikiranku adalah bukan apa apa. Aku memang tidak membayangkan bagaimana kehidupanku setelahku masuk disana. Aku tidak mempunyai bayangan samasekali. Yang jelas, aku akan memasuki fase kehidupan baru dimana aku akan berada bersama orang-orang yang baru pula.
Beberapa hari kemudian, alhamdilillah. Allah menghendakiku untuk memasuki dan membuka lembar hidup baru di sana. Dan mengizinkanku untuk melalui banyak kisah yang jelas kurindukan kini.
Dan memang, tidak terjadi apapun yang bisa dibilang menakjubkan setahun pertama aku bersekolah disana. Yang jelas, aku mendapati pelajaran baru yang lebih rumit dan tentu saja memusingkan bagiku yang notabene masih fresh graduate (dari sekolah dasar).
Dulu, ingin sekali aku masuk menjadi pleton inti atau tonti di sekolah saat kelas satu. Kelihatannya suatu kebanggaan tersendiri bagi yang bisa ikut ekstrakulikuler itu. Bangga karena bisa nyekip beberapa pelajaran (yang biasanya pelajaran pertama) untuk sesi latihan. Namun ya apalah artinya berharap kalau memang tidak dipilih.
Beranjak ke kelas 2, dimana hidupku sedang berada di titik tertenang dalam sejarah hidupku. Bayangkan saja, saat itu bahkan aku tidak pernah merasa tertekan sedikitpun. Mungkin hanya masalah sepele, dan itu bisa diatasi dengan mudah tanpa harus memusingkan kepala (seperti saat ini).
Saat itu, seluruh kelas 2 wajib untuk mengikuti seleksi baris (lagi) lalu keinginan itupun muncul kembali. Disaat aku bahkan sudah melupakan keinginan itu.
Beberapa hari sesi seleksi, aku berusaha semaksimal mungkin agar bisa terpilih. Dan alhamdulillah, aku terpilih.
Dan aku pun menjalani sesi sesi latihan seperti biasa, dari pulang sekolah sampai jam 5 sore. Kami rela dipanas panaskan dan digembleng habis habisan. Karena apa, karena cinta kami. Aku mulai merasakan apa itu namanya kebersamaan. Rasanya sungguh senang kalau satu pleton bisa kompak. Apalagi saat lomba dan kami mendapat juara.
Masih teringat jelas saat aku pertama kali memesan sepatu khusus di tempat pembuat sepatu. Saat itu harganya sekitar 70-80ribu. Dan sepatu itu masih utuh sampai sekarang. Teringat saat betapa susah mencari rok yang tidak sempit, secara keseluruhan rok ternyata sempit. Saat pulang jam 5 dan dirumah langsung cuci kaos latihan karena esoknya harus dipakai lagi. Dan teringat teringat yang lainnya.
Sekarang aku sudah meninggalkan tempat itu ke tempat asing yang jauh dari ku sebelumnya. Aku mendapati kenyataan yang baru di sini. Walaupun aku sekarang bukan anggota ekskul itu lagi sekarang, namun aku masih bisa merasakan atmosfernya. Berbeda memang, namun aku masih merasakannya. Merasakan panasnya tanah lapangan badminton yang memerah. Merasakan debu yang berterbangan karena gebrakan sepatu. Merasakan perihnya kaki. Merasakan peluh yang menetes satu per satu. Merasakan bagaimana rasanya berjuang disana, di lapangan merah itu. Demi sebuah nama, almamater. Aku masih sangat kagum dengan nama yang diberikan oleh orang orang hebat yang rela mengajari kami. Nama yang selalu akan kami ingat. Nama yang berarti.... Batu Berlian Muda.
Comments
Post a Comment